Ga pernah menyangka, seorang Ibu-ibu ini justru sering belajar percaya dari anaknya yang baru 4,5 tahun hidup di dunia.
Sering kah kalian sebagai Ibu ngerasa,
“kok anakku lama banget ya progress-nya?”
“kok anakku belum tumbuh gigi ya?”
“kok anakku belum bisa ya?”
“kok anakku susah banget ya naik bb nya?”
Dan ‘belum-belum’ lain yang tiada habisnya dipikiran seorang Ibu, yang makin dipikir makin stress & makin ga ketemu solusinya, tapi makin legowo hatinya malah ngeliat dengan mata kepala sendiri anaknya menunjukkan progress baik. Aku mau cerita betapa aku belajar percaya sama proses dari olahraga — di case anakku renang ya. Gimana kami menemani dia dari anak yang trauma sama air sampai dia punya percaya diri meluncur di kolam olympic 🏊
Di Pre-Kindie, kami dapat laporan dari homeroom teacher-nya kalau sesi renang di sekolah ga berjalan mulus karena anakku menunjukan trauma di kolam renang, “ini sangat berbahaya, ini sangat berbahaya”. Sudah mengingat-ngingat, benar-benar tidak tahu apa hal yang membuat dia trauma main air di kolam 😔 Hasil dari diskusi bareng gurunya, kami putuskan daftarin les renang. Selain bagus untuk otot-ototnya, motoriknya, stimulasi tinggi badannya, makan lebih lahap, kami juga mau sekalian ajarkan, kalau kita takut itu karena kita belum terbiasa. Waktu kita bisa lebih nyaman sama hal-hal yang kita takutin, ternyata menyenangkan juga, lho.
Kami daftarkan les renang di Anak Air Kemang. Oh, God, 30 menit sesi dia bahkan ga mau masukin kakinya di air, dia hanya main di pinggir-pinggir kolam.
Pertemuan kedua, dia mau masukin kaki ke kolam, tapi hanya di tangga aja.
Pertemuan ketiga, dia mulai mau belajar kicking pakai pelampung dipegangin tapi tetap maunya main di pinggir kolam
Dan sampai 1 bulan les renang, rambutnya pun ga basah. Ada fasenya aku frustasi sampai bilang suster aja / ayahnya aja yang antar les. Huhu.
Sampai ada suara-suara di dalam kepala, paksa aja apa ya? 🥲 ternyata aku masih punya kesabaran & kewarasan..
6 bulan berlalu,
✅ sudah mau masuk kolam inisiatif sendiri
✅ belajar kicking di kolam yang dalam bolak balik pakai pelampung dan dipegangin
✅ mulai mau menyelam dipegangin
High appreciation buat Kak Nandhika yang pas dia resign, kita juga memutuskan ga perpanjang les di sana lagi, karena kami merasa anak kami butuh teknis & lingkungan yang lebih advanced. Buat kami, Anak Air dan Kak Nandhika itu support system pertama yang bikin anakku nyaman sama kolam renang, aku merasa waktu dia pindah tempat les ke lingkungan yang lebih kompetitif, anaknya udah punya pengalaman yang bikin dia confidence “aku bisa, aku udah pernah ngelawan rasa takutnya”.
Akhirnya dia kami pindahkan ke Pari Sakti Swimming Club, lokasinya kami pilih di Kolam Renang Bulungan karena dekat rumah. Kenapa akhirnya kami pilih Pari Sakti?
- suasananya lebih ramai & kompetitif, dari anak toddler sampai dewasa ada. Setelah kami sadari, kondisi ini yang perlu dipaparkan ke anak kami supaya dia bisa melihat banyak orang yang lebih jago, yang ngasih dia standar tinggi, kalau dia ga mau keluar dari comfort zone (begitu-begitu aja) ya dia yang ketinggalan. Di case anakku ternyata works!
- biayanya terjangkau bahkan lebih murah dari Anak Air, waktu pas tau lebih murah, aku happy sekali! 😂
- salah satu klub renang terlama di Indonesia & jadi wadah penghasil atlet-atlet baru di mana ini bagus kalau misal ternyata anak kita mau seriusin renangnya. Mereka juga sering adain kompetisi, jadi buat murid-muridnya ini bisa jadi motivasi supaya lebih serius making progress.
- di jakarta selatan, lokasi latihan ada beberapa titik yang semuanya gampang diakses. Anakku ambil di Bulungan (outdoor) karena selain dekat, ternyata kolam di GBK Stadium Akuatik itu dingin bangettttt (indoor) + jauh masuknya, buat anak yang lebih kecil ini challenging. Gampang kedinginan sampai bibir biru, minusnya kalau di Bulungan pas hujan jadi main hujan-hujanan. Tapi kalau gledek besar di postpone sampai lebih reda.
- Durasi renang 1,5 jam (3 orang anak) disaat sebelumnya hanya 30 menit (private)
Banyak faktor yang bikin anakku progress-nya lebih cepat di sini, kalau dari pengamatan kami karena durasi yang lebih panjang, diajarin teknik dari Coachnya, disiplin kalau nego terus disuruh ulang, lingkungan kompetitif mix age, kolam guedeeee banget, anakku komen pertamanya “woooww keren” 😂
Kesimpulan setelah case renang ini, anakku memang harus punya banyak contoh orang yang lebih jago dari dia. Supaya standar dia lakukan sesuatu itu tinggi. Dia kurang cocok kalau private.
Tapi satu hal terpenting menurutku adalah percaya sama anakmu. Meskipun pace dia terlihat lambat dari teman-teman seusianya, gapapa, dia lagi berjuang. Kasih mereka dukungan, hadir buat mereka. Percaya aja, dia pasti akan bisa ❤️