Monday, October 13, 2025

Belajar 'Percaya Proses' dari Olahraga

Ga pernah menyangka, seorang Ibu-ibu ini justru sering belajar percaya dari anaknya yang baru 4,5 tahun hidup di dunia.

Sering kah kalian sebagai Ibu ngerasa,

“kok anakku lama banget ya progress-nya?” 

“kok anakku belum tumbuh gigi ya?”

“kok anakku belum bisa ya?”

“kok anakku susah banget ya naik bb nya?”


Dan ‘belum-belum’ lain yang tiada habisnya dipikiran seorang Ibu, yang makin dipikir makin stress & makin ga ketemu solusinya, tapi makin legowo hatinya malah ngeliat dengan mata kepala sendiri anaknya menunjukkan progress baik. Aku mau cerita betapa aku belajar percaya sama proses dari olahraga — di case anakku renang ya. Gimana kami menemani dia dari anak yang trauma sama air sampai dia punya percaya diri meluncur di kolam olympic 🏊 


Di Pre-Kindie, kami dapat laporan dari homeroom teacher-nya kalau sesi renang di sekolah ga berjalan mulus karena anakku menunjukan trauma di kolam renang, “ini sangat berbahaya, ini sangat berbahaya”. Sudah mengingat-ngingat, benar-benar tidak tahu apa hal yang membuat dia trauma main air di kolam 😔 Hasil dari diskusi bareng gurunya, kami putuskan daftarin les renang. Selain bagus untuk otot-ototnya, motoriknya, stimulasi tinggi badannya, makan lebih lahap, kami juga mau sekalian ajarkan, kalau kita takut itu karena kita belum terbiasa. Waktu kita bisa lebih nyaman sama hal-hal yang kita takutin, ternyata menyenangkan juga, lho.


Kami daftarkan les renang di Anak Air Kemang. Oh, God, 30 menit sesi dia bahkan ga mau masukin kakinya di air, dia hanya main di pinggir-pinggir kolam. 

Pertemuan kedua, dia mau masukin kaki ke kolam, tapi hanya di tangga aja. 

Pertemuan ketiga, dia mulai mau belajar kicking pakai pelampung dipegangin tapi tetap maunya main di pinggir kolam

Dan sampai 1 bulan les renang, rambutnya pun ga basah. Ada fasenya aku frustasi sampai bilang suster aja / ayahnya aja yang antar les. Huhu.


Sampai ada suara-suara di dalam kepala, paksa aja apa ya? 🥲 ternyata aku masih punya kesabaran & kewarasan.. 


6 bulan berlalu,

✅ sudah mau masuk kolam inisiatif sendiri

✅ belajar kicking di kolam yang dalam bolak balik pakai pelampung dan dipegangin

✅ mulai mau menyelam dipegangin


High appreciation buat Kak Nandhika yang pas dia resign, kita juga memutuskan ga perpanjang les di sana lagi, karena kami merasa anak kami butuh teknis & lingkungan yang lebih advanced. Buat kami, Anak Air dan Kak Nandhika itu support system pertama yang bikin anakku nyaman sama kolam renang, aku merasa waktu dia pindah tempat les ke lingkungan yang lebih kompetitif, anaknya udah punya pengalaman yang bikin dia confidence “aku bisa, aku udah pernah ngelawan rasa takutnya”.


Akhirnya dia kami pindahkan ke Pari Sakti Swimming Club, lokasinya kami pilih di Kolam Renang Bulungan karena dekat rumah. Kenapa akhirnya kami pilih Pari Sakti? 

  • suasananya lebih ramai & kompetitif, dari anak toddler sampai dewasa ada. Setelah kami sadari, kondisi ini yang perlu dipaparkan ke anak kami supaya dia bisa melihat banyak orang yang lebih jago, yang ngasih dia standar tinggi, kalau dia ga mau keluar dari comfort zone (begitu-begitu aja) ya dia yang ketinggalan. Di case anakku ternyata works!
  • biayanya terjangkau bahkan lebih murah dari Anak Air, waktu pas tau lebih murah, aku happy sekali! 😂
  • salah satu klub renang terlama di Indonesia & jadi wadah penghasil atlet-atlet baru di mana ini bagus kalau misal ternyata anak kita mau seriusin renangnya. Mereka juga sering adain kompetisi, jadi buat murid-muridnya ini bisa jadi motivasi supaya lebih serius making progress. 
  • di jakarta selatan, lokasi latihan ada beberapa titik yang semuanya gampang diakses. Anakku ambil di Bulungan (outdoor) karena selain dekat, ternyata kolam di GBK Stadium Akuatik itu dingin bangettttt (indoor) + jauh masuknya, buat anak yang lebih kecil ini challenging. Gampang kedinginan sampai bibir biru, minusnya kalau di Bulungan pas hujan jadi main hujan-hujanan. Tapi kalau gledek besar di postpone sampai lebih reda. 
  • Durasi renang 1,5 jam (3 orang anak) disaat sebelumnya hanya 30 menit (private)

Banyak faktor yang bikin anakku progress-nya lebih cepat di sini, kalau dari pengamatan kami karena durasi yang lebih panjang, diajarin teknik dari Coachnya, disiplin kalau nego terus disuruh ulang, lingkungan kompetitif mix age, kolam guedeeee banget, anakku komen pertamanya “woooww keren” 😂


Kesimpulan setelah case renang ini, anakku memang harus punya banyak contoh orang yang lebih jago dari dia. Supaya standar dia lakukan sesuatu itu tinggi. Dia kurang cocok kalau private.


Tapi satu hal terpenting menurutku adalah percaya sama anakmu. Meskipun pace dia terlihat lambat dari teman-teman seusianya, gapapa, dia lagi berjuang. Kasih mereka dukungan, hadir buat mereka. Percaya aja, dia pasti akan bisa ❤️

POV: Orang Tua yang Menyekolahkan Anak di Sekolah Cikal Lebak Bulus

Belakangan aku melihat fenomena di Threads, banyak sekali orang tua yang lagi cari tahu pengalaman menyekolahkan anak tapi pingin dengar langsung dari sudut pandang orang tua yang beneran sekolahin anaknya disana, jadi bukan sekadar 'katanya'. Karena kita sama-sama tahu yaaa tidak ada sekolah yang sempurna persis seperti kemauan kita (kecuali homeschooling / bikin sekolah sendiri ✌🏻 huehehe), ditambah biaya pendidikan sekarang terbilang cukup tinggi dibanding jaman kita sekolah dulu, jadi pingin paham alasan kenapa sekolah itu worth it untuk dipilih 😉

Disclaimer:
Aku tinggal di Jakarta Selatan, yang menurutku di sini banyak sekolah bagus -- yang kalau sesama Moms bilang "di jaksel tuh, mau sekolah yang model apa aja ada, tinggal pilih yang sesuai tujuan pendidikan, value keluarga, jarak dan budget". Anakku laki-laki dan dia sekolah di Cikal dari kelas Bayi-bayi, Pre Kindie, dan sekarang di Reception Junior (TK A), We plan to have our son study here at least until the end of PYP. Untuk SMP, kita akan lihat berdasarkan peminatan subject dia dan rencana perkuliahan nantinya. Apakah bisa diakomodir di sekolah ini atau harus pindah ke sekolah yang lebih sesuai. Dari hasil Tes Kesiapan Sekolah sebelum daftar TK, IQ anakku Superior & hasil diskusi kami bareng Psikolog sekolah iB cocok untuk dia. 

So, here we go..

Aku naksir dengan Cikal dari masa pra konsepsi. Karena waktu itu mau punya anak & baca buku seorang dokter kandungan tentang pentingnya persiapan jadi Papa Mama, jadi sekalian aja deh cari tahu tentang sekolah. Yang lucunya, sebelum aku nikah, aku lebih tertarik pada sekolah yang persis di sebelahnya #IYKYK sampai bikin kalkulasi biaya pendidikan anak dari TK - SMA di sekolah tersebut 😅 Setelah cari tahu lebih dalam & ngobrol dengan alumninya, aku memutuskan untuk beralih ke Cikal. 

Sebelum Cikal berpindah lokasi ke Lebak Bulus & memiliki gedung bagus seperti sekarang, aku tetap melihat ini sekolah yang cocok buat anak kami at least untuk early childhood development-nya. Kami merasa pendekatan Cikal yang personalisasi, fokus pada kelebihan & keunikan anak akan jadi pondasi yang kuat untuk dia bertumbuh jadi manusia yang utuh, sebelum akhirnya dia siap bersaing di dunia luar. Kami juga punya pandangan, anak usia dini perlu ditanamkan kecintaan pada negaranya dalam hal berbahasa, berbudaya sesuai kearifan lokal makanya kami cocok untuk pra sekolah tidak perlu sekolah internasional. 

Ada masanya, waktu kami lagi ngobrol-ngobrol dengan orang tua lain yang sekolahin anaknya di sekolah berbeda, mereka berusaha meyakinkan lagi untuk sebaiknya masukin aja ke sekolah pilihannya itu dengan budget yang beda dikit. But, we still chose Cikal.

Untuk orang tua yang cari review Rumah Main Cikal & Sekolah Cikal Lebak Bulus, here's my two cents:
  • sekolah ini cocok untuk orang tua yang mau bersama-sama dengan anak dan guru membangun pondasi kuat anak ke dalam dirinya (inner strength). Karena orang tua akan involved sekali dalam urusan perkembangan anak, akan sering datang ke sekolah untuk belajar bareng cara membersamai anak. Orang tua akan dapat laporan hasil belajar dalam bentuk tulisan kualitatif, ini bagus untuk refleksi anak dan orang tua. Jadi, jangan berharap ada angka ya.
  • sekolah ini bukan sekolah agama, tapi aku melihat anak laki-laki ku memahami mengapa dia harus berdoa kepada Allah, shalat sebagai cara untuk dekat dengan Allah, dia menganggap baca doa sebelum melakukan aktifitas supaya dia dilindungi & supaya mendapatkan keberkahan, dia selalu bilang belajar agama Islam & belajar quran di sekolah sangat menyenangkan. Dia pernah punya homeroom teacher non-muslim & bertanya mengapa bentuk tangan gurunya saat berdoa berbeda, setelah dijelaskan dan pernah mengalami momen di luar sekolah ada orang lain membahas isu SARA yang kurang tepat kepadanya, dia sempat bilang ke aku, "Ibu, kita kan ga boleh berkata seperti itu ya? Itu kan tidak baik", aku kagum ternyata dia bisa paham konteks & menghargai perbedaan. Sekolah ini punya situasi yang sama persis seperti kita hidup bermasyarakat, buat kami ini hal baik sebagai bekal nantinya dia bisa adaptif hidup di mana aja, dengan siapa aja.
  • sekolah ini tidak mengakomodir orang tua 'berkarir' di lingkungan sekolah. Aturan sekolah jelas, orang tua dan anak wajib patuh. Beberapa aturan Cikal yang ku suka, tidak boleh merayakan ulang tahun di sekolah, tidak boleh memberikan bingkisan apapun di area sekolah, guru pun tidak boleh menerima gratifikasi dalam bentuk apapun (jadi mereka dibuatkan acara khusus untuk pemberian tanda terima kasih secara adil dan merata bahkan ke janitor dan satpam pun merasakan keriaan yang sama), dan masih banyak aturan lain yang membuat hatiku tenang sebagai orang tua. Aku suka dengan lingkungan Cikal yang hangat, dekat tapi fokus mengurus hidup masing-masing (ga kepo). 
  • sekolah ini menyediakan catering sehat, jadi untuk orang tua yang mau mendelegasikan urusan gizi ke pihak sekolah, bisa pakai. Mereka pakai vendor yang bisa siapkan snack & lunch, bisa atur sendiri jadwalnya, bisa pilih menu beragam setiap minggunya diantar ke kelas.
  • parenting style-nya mirip-mirip. Kalau anak sakit, orang tua ngerti ga paksain anak masuk sekolah supaya jaga teman-temannya juga. Anak-anaknya manis, penyayang & saling jaga, tapi yang namanya anak-anak ga mungkin ga ada konflik yaa, aku bersyukur banget sih guru-gurunya sigap tanggap untuk membantu anak melaluinya sambil belajar. 
  • guru melihat anak itu individu yang istimewa, kalau ada hal yang memang harus diimprove mereka akan komunikasikan ke orang tua supaya sama-sama berupaya nih antara 3 pihak; guru - anak - orang tua, karena ini bukan hanya tugas sekolah ya untuk solved. Kalau ada hal yang memang sudah baik, guru akan menggunakan kelebihan tersebut supaya anak makin percaya diri. 
  • di tahun ajaran 2025/2026, fasilitas gedung di Lebak Bulus makin bagus, supaya anak-anak juga makin optimal ya belajar di sekolah. 
  • mulai dari Reception Senior (TK B), anak-anak menggunakan shuttle 🚎 untuk menuju dan pulang dari sekolah. Kalau dari arah rumahku, nantinya kami bisa drop-off dan pick-up dari Citos. Ini salah satu kebijakan yang ku suka dari Cikal, mereka benar-benar ngasih contoh ke anak-anak wujud nyata empati terhadap lingkungan seperti apa. Karena di mana-mana sekolah itu selalu jadi sumber kemacetan kan? Huhuhu.
  • hal paling kelihatan semenjak anakku sekolah di sini adalah dia suka sekali sekolah. Dia menanti ketemu guru dan teman-teman, belajar, bermain di sekolah. Sering bilang kangen. Berapa hari lalu aku tanya, "kamu paling suka pelajaran apa di sekolah?", dia jawab "arane suka semua pelajarannya karena belajarnya menyenangkan" 🥰 buibu pasti paham bagaimana rasanya denger kalimat ini dari anak sendiri. Jadi ngerasa worth it bayar SPP seharga UMP Jakarta. Karena banyak pendapat parents lain yang kami terima, dengan SPP segitu nambah dikit bisa dapet sekolah internasional. But for us, ini bukan cuma tentang english speaking environment, status international school or high class network tapi soal pondasi diri. 
  • meskipun ini sekolah iB, aku tetap melihat anakku punya kedisiplinan & kemandirian dalam hal mengerjakan tugas rumah, dia tau cara supaya tepat waktu, apa yang perlu dibawa besok, mengulang hal-hal yang dia dapet dari sekolah di rumah, dan konteksnya dia masih anak 4,5 tahun di mana pelajarannya disesuaikan dengan perkembangannya. Aku ga sepakat dengan pendapat yang bilang anak-anak iB cenderung ga disiplin & kurang pintar, karena definisi pintar itu kan luas 🤓 By the way, ada juga lho parents yang bilang, "ini mah murid-muridnya menang-menang lomba bukan 'hasil kerjaan' sekolah tapi karena ortunya les-in sana sini", aku justru melihat banyak parents generasi Y, kita merasa pendidikan anak tuh bukan cuma tanggungjawab sekolah yang minterin lho, justru kita pingin anak kita dilatih dengan optimal di hal yang jadi kelebihannya. Yang aku percaya selama ini, anak bisa berhasil itu pasti besar support orang tuanya. Bukan cuma, dia terlahir dengan genetik cerdas lalu dia jadi terdepan hasil dari gurunya ngajar bagus. 

Ok, lanjut..

Terus ada yang nanya, "dari rumahmu bukannya lebih dekat ke Sekolah Cikal Kemang ya? Kok tetep pilih yang jauh ke Lebak Bulus? Kenapa?", karena yang di Kemang baru dibuka setelah kita udah mantap daftar yang Lebak Bulus, sempet survey juga (ya ga nutup kemungkinan mungkin SD / SMP / SMA pindah ke Kemang), selain akan jadi angkatan pertama, gedungnya juga belum sepenuhnya jadi. So, ga ada urgency kita pindah -- meskipun benar secara jarak dekat. 

So far, untuk mengantisipasi jalanan TB Simatupang yang sedang tidak bersahabat, supaya ga stress di jalan kita naik MRT dan anaknya happy 🚇 dari pengamatan kami, selama naik MRT waktu tiba di sekolah selalu sama setiap harinya (terukur) jadi anakku ga perlu berangkat terlalu pagi, dan sekarang tidak pernah lagi terlambat ke sekolah. Yeayy!

Menurutku selain jarak, faktor aksesibilitas itu penting saat milih sekolah, buat alternatif pilihan transportasi. Karena rencana pendidikan kami di sana sangat panjang, kami mau ajarin dia untuk belajar efektif efisien dengan menggunakan transportasi umum, jaga-jaga kami ga bisa selalu antar (pas dia nya udah cukup besar dan mandiri ya).

Kalau ada teman-teman yang tanya ke kami, "so far gimana En, Cikal?", aku orang tua yang happy banget sekolahin anak di sini, match my expectation. Satisfied 🥰
Room for improvement selalu ada kok, karena aku percaya manusia itu bertumbuh pingin yang lebih baik lagi. But for me, Cikal adalah pilihan terbaik buat kami.

Hope it helps ya, parents.. karena aku yakin setiap orang tua pasti ingin kasih yang terbaik buat anaknya 💛